10 Tipe-Tipe Orang/Lontaran A la Amrik

Sooo.. new year is here! I've been pretty pleased with myself and how things have gone in life department so far. When most people start their work-out resolution in the new year, I started early in October last year. Initially I did this work-out regimen to prepare myself for grad school interviews in November & December. I wanted to look my best! Turns out, I have been going to the gym almost everyday since I returned from Austria end of October.

I also have great news of my acceptance into two graduate schools (specifically Physician Assistant/Associate Program!) in the area. I have decided to accept the offer from my alma mater OHSU. I have worked towards this dream of attending PA school for the past 2.5 years and can't be happier!

Jadi, blog post kali ini adalah menyoal tipe2 rekan kerja yg saya temukan di Amerika. Setelah tinggal di sini lebih dari 10 tahun, dan mengenal dunia kerja > 5 tahun saya semakin familiar dan menemukan pola-pola tertentu di rekan2 kerja (atau orang lokal secara umum) di Amerika.

Langsung saja ya!

1. "That's what I thought"
Kalau diterjemahkan secara bebas ke bahasa Indonesia, kurang lebih artinya "Aku pikir begitu juga sih". Ini kalimat yang paling sering saya dengar, paling gak sekali sehari. Kalimat ini memberi kesan (at least to me) bahwa si talker tidak mau terliat bodoh atau paling tidak sudah punya pendapat sebelum bertanya. Setelah jawaban diberikan atas pertanyaannya, mereka akan mengakhiri dengan jawaban ini. Jarang sekali orang yang mengucapkan response seperti: "oh.. begitu ya". Sebetulnya saya gak habis pikir dengan orang2 yang bertanya dan kemudian mengakhiri dengan lontaran "that's what I thought" ini. Kalau cuma diucap sekali dua kali atau once in a blue moon (jarang-jarang) gak apa-apa ya, tapi kalau polanya selalu begini saya jadi heran. Sebetulnya orang2 ini kurang percaya diri atau bagaimana ya? Kadang saya mikir juga.. mungkin upbringingnya orang-orang sini dari kecil selalu talk back ke orang tua or orang lain? Atau mungkin di society mereka, it's important untuk terdengar pintar atau paling tidak to have an opinion? Well I don't know.

2. Menginterupsi orang lain
Jangan heran kalo ketika kamu ngomong, sebelum selesai rekan kerja kamu langsung main potong. Setelah bertahun-tahun, saya juga memulai cara ini dengan mereka (meski dengan frekuensi yang jauh lebih sedikit dibanding kebanyakan orang di sini). Yang saya lihat agak menyebalkan adalah, ketika mereka meminta pendapat kamu dan sebelum kamu selesai berbicara mereka sudah cut you off. Okay, I am so gonna let you do all the talking.

3. Mr/Ms. Explaining Everything
Ada orang yang setiap kamu datang ke mereka untuk bertanya akan menjelaskan panjang lebar tentang suatu hal. Ini khususnya mengesalkan apabila topiknya adalah sesuatu yang kamu tau baik, dan akan buang-buang waktu untuk selalu menyentuh ranah tersebut again and again. Jenis rekan kerja seperti ini especially berguna apabila topiknya memang tidak umum (read: kita belum familiar) dan apabila kita punya banyak waktu to even talk about anything at all. Take your pick!

4. "I am all about sharing" kind of person
Yang satu ini isn't bound by where you are. Di mana-mana pasti kita ketemu orang yang seperti ini. Meski jarang ditemui, ada satu co-worker saya yang selalu menawarkan makanannya setiap kali dia makan di depan saya. Nice gesture, keep it up!

5. "I would love to...!" (enthusiastic) kind of person
Jadi dengan tipe yang satu ini, ketika kamu bercerita tentang sesuatu mereka akan terlihat sangat tertarik dengan bahan ceritamu. Suatu saat saya bercerita tentang makanan yang saya biasa masak di rumah. Karena co-worker ini terlihat sangat tertarik dan bilang bahwa dia ingin mencoba, saya pun menawarkan bumbu kunci makanan tersebut -dalam bentuk kemasan dan bebas MSG pula. Dua hari kemudian saya berikan bumbu tersebut ke orang itu. Usut punya usut dia tidak memasaknya sampai berbulan-bulan kemudian. Terkadang orang menampilkan antusiasme yang kurang proporsional. Apa mungkin biar terlihat sopan? Probably. Just a guess.

6. "Do you know..." kind of person
Ini jenis orang yang tampaknya ingin memastikan apakah kamu punya pengetahuan tertentu tentang sesuatu. Sebagai imigran, saya sadar bahwa ada beberapa hal (khususnya lokal) yang saya kurang atau tidak familiar sama sekali, terutama saat pertama kali menginjakkan kaki di sini. Terkadang levelnya bisa "tingkat tinggi" sehingga terkesan merendahkan, misalnya.. ketika salah seorang rekan bertanya kalau saya tau apa itu French toast, dan jika saya tau asparagus. Wow! Too funny!

7. "Are you crazy??" kind of person
Jenis yang ini sebetulnya sangat jarang ditemui, cuma dia eksis somewhere. Tapi pada suatu saat, seseorang bertanya umur saya dan suami. Setelah dia tau jawabannya, dia melontarkan frasa "Are you crazy??". Perbedaan umur saya dan suami memang lumayan besar, namun kebanyakan orang cukup sopan dan tidak secara spontan terkejut dan mengatakan bahwa saya gila. Ha ha! I am used to this by now.

8. Suami/istri kamu kerjanya apa?
Ini juga cukup sering ditanyakan, surprisingly. Meski persepsi umumnya adalah bahwa orang Amrik masa bodo or tidak utak atik hal-hal yang sifatnya pribadi. Kenyataannya (berdasarkan pengalaman pribadi) masih banyak orang Amrik yang menanyakan pertanyaan ini on a first meeting. Sebetulnya jika kamu sudah cukup dekat, ini pertanyaan yang sangat lumrah ditanyakan. Namun kalau kamu bertemu orang untuk pertama kalinya, sebaiknya kamu hindari pertanyaan tersebut. This is just my two cents!

9. "Are you..... (jenis etnis tertentu)?"
Pertanyaan khusus yang ditujukan buat saya adalah... "Kamu orang Filipin ya?". Bahkan ada seseorang yang menanyakan ini pertama kali saya ketemu dia. Bukan hanya seseorang sih, tapi beberapa orang dan jumlahnya cukup banyak jika dihitung over time. Keep in mind, ini bukan hanya orang dari etnik tertentu yang menanyakan pada saya, banyak juga orang Caucasia (kulit putih) yang bertanya seperti ini. Harmful question? No. Mereka cuma ingin tau aja, penasaran mungkin. Bikin saya risih? Over time, iya. It gets old, you know. Can you look past the way I look?

10. "Where are you from?"
Gets old. Gets old. Gets old. That's all I can say. Kamu tidak tau sudah banyak sekali orang yang tanya saya tentang ini. Again, can you look past my ethnicity? If you find me interesting, get to know me first and later you get all sorts of stories tentang kultur saya. Saya tau kalau maksud anda itu harmless, but again kenali saya dulu deh and you will find out. Saya bukan komoditas langka. Saya bangga atas kultur saya. Saya akan lebih appreciate juga kamu genuinely tertarik dengan asal dan kultur saya. Interest atau maksud semacam ini tidak akan tampak ketika "where are you from" itu menjadi pertanyaan yang kamu lontarkan pada pertemuan pertama. At least, that's not gonna fly with me, and there are a lot of people out there yang merasakan hal yang sama. The rest would just be like "I don't really care".

Kasih saran ya tentang topik apa yang kira-kira menarik untuk dibahas di next blog post!

Comments

Popular Posts